Rabu, 09 Mei 2012

BILA DOA TAK DIKABULKAN

Alkisah, ada seorang  warga Amerika bernama Frank Slazak, yang bercita-cita ingin menjadi astronot.

"Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang keluar angkasa. Namun, aku tidak memiliki sesuatu yang tepat. Aku tidak memiliki gelar, dan aku bukan seorang pilot." urai Frank Slazak, memulai kisahnya, sebagaimana dikutip oleh Muhamad Rahadian dalam sebuah artikelnya.

Suatu hari Gedung Putih mengumumkan sedang mencari warga negara biasa untuk ikut dalam penerbangan pesawat ulang-alik Challanger. Dan warga itu adalah seorang guru. Frank adalah warga biasa dan juga seorang guru. "Aha! Inilah saatnya saya akan mencapai cita-cita saya," Frank melompat gembira.

Hari itu juga Frank mengirimkan surat lamaran ke Washington. Setiap hari ia berlari ke kotak pos, sampai akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Frank lolos penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi, bukan mimpi.

Selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impiannya semakin dekat saat NASA mengadakan test fisik dan mental. Begitu test selesai, Frank menunggu dan berdoa lagi. Ia tahu bahwa dirinya sangat dekat pada impiannya. Beberapa waktu kemudian, Frank menerima panggilan untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center.

Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan Frank kemudian menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara. Siapakah yang bisa melewati ujian akhir ini?

"Tuhan, biarlah diriku yang terpilih," begitu Frank berdoa tiada henti. Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih orang lain yaitu Christina McAufliffe, Frank kalah. Impian hidupnya hancur. Ia mengalami depresi. Rasa percaya dirinya lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaan. Ia mempertanyakan semuanya. "Kenapa Tuhan? Kenapa bukan aku?" tanya Frank meratapi kegagalannya itu.

Frank bertanya kepada ayahnya. "Semua terjadi karena suatu alasan," ujar ayahnya singkat. Frank belum bisa memahami apa yang disampaikan ayahnya.

Selasa, 28 Januari 1986, Frank berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran pesawat ulang-alik Challanger. "Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku?" kali ini ia masih "protes" lagi terhadap keputusan Tuhan.

Tujuh puluh tiga detik kemudian, Tuhan menjawab semua  pertanyaannya dan menghapus semua keraguannya. Pesawat Ulang-Alik Challanger meledak dan menewaskan  semua penumpang.

Seketika itu ia teringat kata-kata ayahnya: "Semua terjadi karena suatu alasan." Ia tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun ia sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadirannya di bumi ini. Ia memiliki misi lain dalam hidup. "Aku tidak kalah, aku seorang pemenang," katanya sembari berlinang air mata.

Frank Slazak bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doanya dikabulkan. Ia menang karena telah kalah. 

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger